Adventura, Puisi
Leave a Comment

Kelmarin Sudah Kiamat

Pekat hitam menyambut hujan turun,
bulan malu bila awan berkepul ramai,
kita menyaksi payung pantas berlari,
dan di ribaku,
aku menjabat sabarmu,
dengan selimut ikhlas,
menutupi malu semalam.

Di tabir hitam,
bulan tenggelam,
suaramu anggun seperti angin rindu,
aku menjadi malu,
jarimu menari,
mengira janji,
menanam bahagia,
menutupi amuk semalam.

Suaramu membisik,
ucap malam ini akan selamat,
kelkatu datang merisik,
membawa sinar ke jagat,
melipat marah,
menjadi rama-rama,
terbang ke awan,
dimakan naga,
menutupi perit semalam.

Dan kita menjadi dewa dewi,
mengharumkan matari,
menyambut hari baru,
dengan gemersik burung-burung,
senandung asyik angin menyapa gunung,
dan kita berdua menyulam lagu ceria,
berjanji gembira walau hati membara.

Mari, terbang ke pelangi,
bersayap harapan,
agar esok tidak palat,
kelmarin sudah kiamat.

This entry was posted in: Adventura, Puisi
Tagged with:

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s