Adventura, Puisi
Leave a Comment

Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Kirim padaku sayap dari syurga,
aku terbang membawa bunga,
mencari engkau yang sengsara.

Kirim padaku senandung rindu,
agar laguku singgah ke masa dulu,
mengubat pilumu yang lalu.

Kirim padaku warna biru,
aku menjadi langit,
meneduh engkau yang malu,
kepada matari yang terik.

Kirim padaku derita,
agar aku kenal bahagia,
biar jadi cerita,
dua hati enggan berpisah,
berjanji hari esok tiada hilang,
dan semalam hanya hari malang.

Tiada mampuku beri,
lagu semerdu angin melambai ombak,
harta sebiru lautan,
puisi seindah Rumi,
semua luar batas mampuku,
yang ada hanya murni,
ambillah,
gantung jantungku.

Sajak ini menanam harapan,
kepada sisa-sisa kenangan,
yang kita bina,
di atas cemara,
sebelum kata akhir diucap,
dan janji aku tulis di atas daun,
agar engkau ingat,

engkau,
aku,

satu.

This entry was posted in: Adventura, Puisi
Tagged with:

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s