Adventura, Puisi
Leave a Comment

Melankolia

Dalam lautan meja kosong,
matari terik menyelinap masuk ke dalam kedai kopi mahal membentuk bayang-bayang tiada simetri,
kegelapan menelan meja kosong walau bulan masih bersenggama dengan bintang,
adakah rindu curang kepada sepi?

Lelagu akustik yang tidak pernah didengar di radio,
pendingin hawa yang tidak sedingin minuman mahal,
lampu malap yang membawa semua mimpi menjadi raksasa mati,
adakah rindu lupa kepada sunyi?

Gelak tawa anak orang kaya sedang membunuh hari tukang sapu yang mati-mati kerja untuk belikan telefon murah kepada anaknya,
suara barista bercakap bahasa barat yang tidak jelas diksinya,
potret-potret pemandangan yang Piccaso tidak sengaja beri ilham selepas menjadi hantu kepada pelukis jadi-jadian,
adakah rindu menunggu mimpi?

Dan, kamu, bidadari,
bisikan hati sajak ini,
sempurna perbuatan, perkataan dan perwatakan,
menyihir aku untuk maki,
kedai kopi mahal tempat kita bertemu,

d
u
l
u

This entry was posted in: Adventura, Puisi

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s