Adventura, Poetry
Leave a Comment

Pathetique Sonata

Murnikah masih cinta yang pernah engkau tinggalkan dulu?
Atau terkurung ia di dalam kotak rahsia yang tahu hanya malu?
Atau menyengat sangat jelas ia pada waktu tengah hari engkau berdiri di tengah padang bersama mata-mata hakim menghukum engkau seperti anak kecil yang mematah bunga yang baru tumbuh?
Atau dikubur; ganti cinta baru?

Cinta lama seperti gambar usang yang tergantung di rumah nenek.
Warna purba, memori suka duka, bingkai kayu, cermin mengabu dan biar sayu tanpa ada rindu yang menjenguk.

Itulah aku,
Yang engkaubuang―walau kita pernah melawan musuh beribu.

Yang akucinta―walau ada cinta baru membawa sakti memukau,
Itulah engkau.

Dan,
kita,
sudah jauh berpisah,
jambatan telah r
u
n
t
u
h
membawa aku yang gelisah,
bertanya kisah;
Murnikah masih cinta yang pernah jadikan engkau manusia.

This entry was posted in: Adventura, Poetry

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s