Adventura, Puisi
Leave a Comment

Surat Penyair Kepada Lazuardi dan Pelangi

Sebermula, lazuardi adalah sebuah hamparan tidak berwarna,
kosong ia.
Dan,
ketika tanganmu mulai menari gemalai dengan berus-berus cinta,
setiap satu kata-kata itu engkau tulis dan membentuk matahari, awan dan lazuardi bertukar biru,
tenang ia.

Seperti lautan biru,
biru sebiru-birunya.

Biru,
aku mahu menyelam dan terus tinggal di dalam.

Biru,
tidak akan kabut walau lasykar asap bertalu-talu membunyikan gong untuk menawan.

Seketika itu,
tenang ia (lenggang kosong tanpa kata-kata) menunggu;
air mata membasuh setiap dosa manusia (sejagat).

Seperti perit,
erti sedih adalah luka yang dibalut lembut,
dan habis membasahi lewat pipi,
tanpa kejam tanpa dendam,
seri.

Dan harapan,
bukan engkau jual di petang hari kepada laksamana yang dambakan cinta puteri.

Kau adalah warna yang hilang dan menjadi pelangi yang utuh hadir di sini.

~ Photo by Blake Lisk

This entry was posted in: Adventura, Puisi

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s