Adventura, Puisi
Leave a Comment

Sedih itu Biar Berdiri Sendiri

Tiada hadiah menarik yang mampu kubawa untuk
hari lahirmu yang kedua puluh lapan,
selain seuntai hati untuk berharap.

Barangkali,
saat aku pergi, tiada jarum yang jatuh juga bisa membunyikan sunyi.
Saat bulan menerangi ruang kantor, biru matamu masih lagi terang bak langit yang tidak merindukan awan,
seperti rinduku pada pipi itu yang sedang dicium oleh tuan rumah ini.
Dan seperti simponi 5, aku juga sedang mencuri masuk mencari cinta engkau yang Tuhan sembunyikan,
namun, seperti penulisnya, aku juga gagal melawan takdir dari Tuhan Maha Arif.

Bulan juga sudah tidur berselimut langit dan berbaring di awan.
Lewat kelkatu dan wain murah,
terhuyung-hayang aku mengiring orkestra anjing di lorong gelap,
dengan baju pinjam mahal yang basah kerana wain pun sudah bosan tinggal di dalam botol,
akal pun sudah bosan tinggal di dalam otak,
air mata pun sudah penat mengalir keluar,
semua pun sudah bosan bersamaku,
seperti pantas engkau melupakanku,
dan aku pantas pernah mencintaimu.

Wajahmu, kini hanya tinggal di dalam hati,
dan kekal bisu tidak mahu berkata-kata
sampai pasti menjadi sisa yang sia-sia,
lewat baju busuk dan cahaya lampu samar,
kata hatiku sudah bisu,
ditelan memori pahit di hari lahirmu.

Aku tidak akan jejaki gunung untuk mencari kotak tinggalanmu,
biar ia beku di atas sana,
bersama beruang yang tidak mahu diganggu manusia,
tenang menjadi bahan sejarah yang tidak mahu menetap di dalam muzium.

Dan esok, ketika wajahku muncul di dada akhbar,
adakah engkau akan menangis untukku?
seperti aku yang pernah meminjamkan bahuku untukmu
waktu anak kucingmu mati dilanggar kereta kuda dulu.

adakah engkau akan memakai pakaian hitam
seperti waktu kita menziarah nenekmu yang tidur jauh di dalam tanah?
atau, engkau hanya akan diam, seperti waktu engkau sudah bosan mendengar kata-kata puisi yang aku tulis ke dalam hatimu?

This entry was posted in: Adventura, Puisi

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s