Adventura, Bahasa, Puisi
Leave a Comment

Rumah Bukan untuk Tinggal

Rumahnya usang,
di tepi belukar
penuh lalang.

Di sana,
tempatnya melakar masa depan
di atas tanah,
dan ketika hujan
masa depannya dihanyutkan ke longkang yang dibinanya sendiri
atas pesan ibu
bahawa
“Setiap mimpi yang dibawa hanyut oleh hujan akan menjadi lalang yang tumbuh di sini.”

Hidupnya malang,
tidak bekerja waktu siang,
waktu malam, duduk di tepi pintu,
(kosong)
bersamanya,
buku nota tentang puisi tulisan penyair tua tidak ternama,
di dalamnya, tertulis satu kata berbentuk pesan,
“Masa depan itu umpama padang yang luas dan sifatnya infiniti,”
tiap kali dia membaca pesan itu, dia terhenti pada infiniti,
kerana dia tidak tahu bagaimana membacanya.

Keluarganya hilang,
waktu itu petang, hujan lebat mengelilingi rumah usang,
ibu dan ayah pesan, jangan berdiri di depan pintu,
sebelum banjir datang menarik mereka pergi,
membawa bersama semua masa depan,
dan kini dia sendiri,
di rumah usang,
dengan hidup malang,
keluarga hilang,
dan tiada pilihan untuk terbang.

This entry was posted in: Adventura, Bahasa, Puisi

by

Saya seorang yang bosan dan pemalas--menulis bukanlah benda yang paling mudah bagi saya. Ada kalanya saya sering tergoda untuk baring seharian pada hari Ahad sambil menikmati filem-filem lazat sajian Hollywood berbanding menulis tentang anak matahari yang merindui pelangi. Begitu lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s