Adventura, Fiksyen
Leave a Comment

Piknik 69

Pagi ini cuaca sangat ceria. Dan apa yang kita boleh buat pada cuaca yang baik sebegini, tanya ayah. Saya kata Disneyland! Ayah teriak, tamu pagi! (…seriously, dude?) Ayah suruh saya bersiap-siap, dan pesan kami akan memakai baju dan celana yang sedondon. Kata ayah kalau pakai pakaian yang sedondon ni, senang sikitlah nak cari kalau hilang. Dan kalau nak minta orang lain tolong carikan pun senang juga, tinggal beritahu yang kita memakai pakaian yang sama.

Kami pernah terpisah dulu sewaktu kami ke fun fair dan kebetulan ada kugiran kegemaran ayah bermain pada waktu itu. Saya relaks saja dan ayahlah yang paling cemas sekali, saya tahu. Sebab ayah sampai naik ke atas stage walaupun beberapa pengawal keselamatan menariknya; ada yang sampai bersangkutan di kaki. Kemudian ayah merampas microphone dari penyanyi lalu berteriak nama saya beserta detail pakaian apa yang saya guna. Ada sepasang perempuan muda yang menjumpai saya tunduk memeluk lutut. Satu antara mereka kata “Aww, kesiannya budak ni. Dah jangan sedih, kami dah jumpa ayah.” (Oh my god, kau tak tahu saya sedang malu besar sekarang dengan perangai orang tua tu. Saya bukan menangislah, bij,) saya kata dalam hati.

Pagi itu kami ke tamu, bersebelahan dengan bangunan besar Giant. Ayah terus mencari barang yang dia mahu, atau dalam situasinya, apa yang dia perlukan; sebuah patung gadis dalam kubikel. Banyak pilihan di sini. Tapi mata ayah paling menyala sekali bila dapat patung yang boleh mengeluarkan suara bila ditekan punatnya. Mungkin, termasuk kali ini, kalau dihitung, mungkin ada beberapa puluh patung gadis kubikel dalam bilik ayah dan semuanya total rosak. Itu sebab kualiti yang tidak terjamin kalau beli di tamu macam ni, kata ayah, tapi saya anggap mungkin ayah terlampau berkasar dengannya.

Selepas itu, ayah kata saya boleh pilih apa saja yang saya nak. Jadi saya pergi ke satu gerai tu, berkanopi biru (kanopi di sini bermacam macam warna), dan mengambil George, seorang paderi berpelajaran tinggi, berwajah suci, berumur sebaya dengan ayah. Tingginya paras telapak tangan saya saja dan agak comel. Ayah tanya berapa harga, peniaga tu kata 5 Ringgit, tambah 3 Ringgit kalau nak balut elok-elok. Ayah minta tolong balutkan sebab dia takut kalau saya yang menggenggam George selama kami di tamu ini, kemungkinan besar, nyawanya singkat. Selepasnya, kami membeli bekalan makanan untuk makan tengah hari.

Sampai saja ke rumah, saya terus membuka balutan George dan kata sekarang dia boleh temankan Lili, mak saya, yang tinggal di dalam laci meja yang selalu memekak tentang pengakuannya pagi-pagi buta… tentang erti kehidupan.

This entry was posted in: Adventura, Fiksyen
Tagged with:

by

s.k, tidak mempunyai cita-cita tinggi. Sekalipun ada, dia tidak akan menulisnya di laman sesawang atau memberitahu kamu. Beliau sukar diramal, seperti tulisan-tulisannya. Pernah katanya, waktu cerek air di atas dapur, jika kamu rasa cerita selepasnya adalah air cerek itu dituang ke mana-mana, ramalan kamu seperti bulu pelepah di atas pagar. Terlalu selesa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s